Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Thursday, January 10, 2013

Gangguan Tidur



GANGGUAN TIDUR

Pengertian Tidur
       Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniyah yang berbeda (Tarwanto dan Wartonah, 2006: 100).

Fisiologi Tidur

Gambar 2.1 Fisiologi Tidur

       Kontrol dan regulasi tidur tergantung pada interrelasi antara dua mekanisme serebral yang bekerja saling berlawanan antara yang satu dengan lainnya. Keduanya secara intermiten mengaktivasi dan mensupresi pusat luhur di otak yang mengontrol tidur dan terjaga. Satu mekanisme menyebabkan individu terjaga, sedangkan mekanisme lainnya menyebabkan individu tertidur.
         Sistem pengaktipan reticular (reticular activating system/RAS) terletak dalam batang otak atas (upper brainstem). RAS diyakini mengandung sel-sel khusus yang mempertahankan keadaan siaga dan terjaga. RAS menerima input rangsang sensori visual, auditori dan nyeri serta rangsang raba. Aktivitas dari serebral kortek (seperti emosi dan proses berfikir) juga menstimulasi RAS. Studi yang dilaporkan oleh Canavan (1984) dan Chuman (1983) dalam Potter & Perry (1993) meyakini bahwa keadaan terjaga merupakan akibat dari neuron-neuron yang ada dalam RAS melepaskan katekolamin seperti hormon norepineprin.
        Tidur dapat juga ditimbulkan oleh pelepasan serotonin dari sel khusus dalam raphe sleep system pada pons dan bagian medial dari otak depan. Area otak ini disebut juga sebagai regio pengsinkronan bulbar (bulbar synchronizing region/BSR). Bagaimana seseorang dapat mempertahankan keadaan terjaga atau keadaan tidur bergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat otak (seperti, berfikir); reseptor sensori perifer seperti stimuli bunyi dan cahaya; dan sistem limbik atau emosi (Potter & Parry,1993).
        Seorang yang mencoba untuk tidur, akan menutupkan matanya dan mengatur posisinya sehingga rilek. Stimulus pada RAS menjadi menurun. Jika ruangan digelapkan dan tenang, maka aktivasi RAS akan semakin menurun. Pada suatu saat BSR akan mengambil alih, sehingga menyebabkan individu menjadi tertidur (Potter & Perry, 1993).

Tahapan Tidur



Tahap NREM (Non Rapid Eye Movement)
Tahap I
Tahap I merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri sebagai berikut : rileks, masih sadar dengan lingkungan, frekuensi nadi dan nafas sedikit menurun, bola mata bergerak dari samping ke samping, dapat bangun segera selama tahap ini. Tahap ini berlangsung selama 5 menit.
Tahap II
Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri sebagai berikut : bola mata berhenti bergerak, temperatur tubuh menurun, serta frekuensi nadi dan nafas menurun secara jelas. Tahap ini berlangsung sekitar 10-15 menit.
Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi nafas serta proses tubuh lainnya lambat, awal dari keadaan tidur lelap, disebabkan adanya dominasi sistem syaraf parasimpatis dan sulit untuk dibangunkan. Berlangsung 15-30 menit.
Tahap IV
Tahap IV merupakan tahap tidur nyenyak, sulit dibangunkan gerakan bola mata cepat, sekresi lambung menurun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, serta tonus otot menurun.

Tahap REM (Rapid Eye Movement)
Pada tahap ini seseorang sulit dibangunkan, mata tertutup dan terbuka dengan cepat, frekuensi nadi dan nafas menjadi tidak teratur, tekanan darah meningkat, sekresi gaster meningkat, temperatur tubuh meningkat, kejang otot kecil dan otot besar imobilisasi. Tahap ini penting untuk perkembangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.



Pola dan kebutuhan tidur
1. Neonatus sampai dengan 3 bulan 16 jam/hari
    Minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM
2. Bayi
    Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam
    Usia 1 bulan sampai 1 tahun kira-kira tidur 14 jam/hari
    Tahap Rem 20-30%
3. Toddler
    Tidur 11-12 jam/hari
    Tahap REM 25%
4. Prasekolah
    Tidur 10-12  jam/hari
    Tahap REM 20%
5.  Usia sekolah
    Tidur 10 jam pada malam hari
    Tahap REM 18,5%
6. Adolensia
    Tidur 8,5 jam pada malam hari
    Tahap REM 20%
7.  Dewasa muda
     Tidur 7-8 jam/hari
     Tahap REM 20%-25%
8.  Usia dewasa pertengahan
     Tidur 7 jam/hari
     Tahap REM 20%
9.  Usia tua
    Tidur 6 jam/hari
    Tahap REM 20-25%
    Tahap IV NREM menurun dan kadang-kadang absen
    Sering terbangun pada malam hari


Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
1.   Penyakit
      Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan   tidur, misalnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi akan memerlukan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bias tidur.
2.   Lingkungan
      Keadaan lingkungan yang aman dan yaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur.
3.   Motivasi
    Motivasi adalah suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
4.   Kelelahan
      kelelahan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan, hal tersebut terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Orang yang mengalami kelelahan akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya diperpendek.
5.   Kecemasan
      Kondisi cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf parasimpatis sehingga mengganggu tidurnya.
6.   Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya tryptophan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna.
7.  Alkohol
     Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.
8.   Obat-obatan
      Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat memperngaruhi proses tidur adalah jenis golongan obat diuretik menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia dan golongan narkotika dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.

Masalah kebutuhan tidur
1.  Insomnia
Adalah ketidak mampuan memperoleh secara cukup kualitas dan kuantitas tidur. Insomnia bukan berarti sama sekali seseorang tidak dapat tidur atau kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama dari yang mereka perkirakan, tetapi kualitasnya kurang. Ada 3 macam insomnia yaitu initial insomnia adalah ketidakmampuan untuk mengawali tidur, intermitent insomnia merupakan ketikmampuan untuk tetap mempertahankan tidur karena sering terbangun dan terminal insomnia adalah bangun lebih awal tetapi tidak pernah tertidur kembali. Penyebab insomnia adalah ketidakmampuan fisik, kecemasan dan kebiasaan minum alkohol dalam jumlah banyak.
2. Hipersomnia
Berlebihan jam tidur dimalam hari, lebih dari 9 jam, biasanya disebabkan oleh depresi, kerusakan syaraf tepi, beberapa penyakit ginjal, liver dan metabolisme.
3.  Parasomnia
Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur, seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalm tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM. Somnabulisme dapat menyebabkan cedera.
4.   Enuresa
Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur, atau biasa juga disebut mengompol. Enuresa dibagi menjadi dua jenis, yaitu : enuresa noktural merupakan mengompol di waktu tidur dan enuresa diurnal adalah mengompol pada saat bangun tidur. Enuresa noktural umumnya merupakan gangguan pada tidur NREM.
5.  Apnea tidur dan mendengkur
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah. Mendengkur sendiri disebabkan oleh adanya rintangan dalam pengaliran udara dihidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya disebabkan oleh adanya adenoid, amandel dan mengendurnya otot di belakang mulut. Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya pernafasan sehingga dapat mengakibatkan henti nafas. Bila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
6.  Narkolepsi
Narcolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur, misalnya tetidur dalm keadaan berdiri, mengemudi kendaraan, atau disaat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis.
7.   Mengigau
Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan diluar kebiasaan. Ditemukan bahwa hampir semua orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM.

Tanda-tanda Kekurangan Tidur
Apabila seseorang kehilangan tidur NREM
  1. Menarik diri, apatis dan respons menurun.
  2. Merasa tidak enak badan.
  3. Ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak dikelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung).
  4. Malas berbicara.              
  5. Kantuk yang berlebihan (sering menguap).
Apabila seseorang kehilangan waktu REM
  1. Kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun.
  2. Tidak mampu untuk berkonsentrasi (kurang perhatian).
  3. Terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing.
  4. Sulit melakukan aktivitas sehari-hari.
  5. Daya ingat berkurang, bingung, timbul halusinasi,dan ilusi penglihatan atau pendengaran.

Kuantitas dan kualitas tidur
Kuantitas tidur
Kuantitas tidur adalah jumlah tidur seseorang pada siang dan malam hari yang biasanya dihitung dengan jumlah waktu (jam).
  1. Neonatus sampai dengan 3 bulan. Tidur 16 jam/hari, 5-6 jam tidur siang dan 10-11 jam malam hari.
  2. Bayi. Tidur 14 jam/hari, 2-4 jam tidur siang dan 10-11 jam malam hari.
  3. Toddler. Tidur 11-12 jam/hari, 1-3 jam tidur siang dan 9-10 jam malam hari.
  4. Prasekolah. Tidur 11 jam/hari, 0-1 jam tidur siang dan 10-11 jam malam hari. Pada usia 5 tahun anak sudah tidak membutuhkan tidur siang.
  5. Usia sekolah. Tidur 10 jam pada malam hari.
  6. Adolensia. Tidur 8,5 jam pada malam hari.
  7. Dewasa muda. Tidur 7-8 jam/hari.
  8. Usia dewasa pertengahan. Tidur 7 jam/hari.
  9. Usia tua. Tidur 6 jam/hari.
Kualitas tidur
      Kualitas adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman disekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006 : 130). Seseorang dikatakan memenuhi kualitas tidur bila seseorang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Tanda-tanda kekurangan tidur dapat dibagi menjadi tanda fisik dan tanda psikologis.
1. Tanda fisik
  • Ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak dikelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung).
  • Kantuk yang berlebihan (sering menguap).
  • Tidak mampu untuk berkonsentrasi (kurang perhatian).
  • Terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing.
2.  Tanda psikologis
  • Menarik diri, apatis dan respons menurun.
  • Merasa tidak enak badan.
  • Malas berbicara.
  • Daya ingat berkurang, bingung, timbul halusinasi, dan ilusi penglihatan atau pendengaran.
  • Kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun.
3.  Masalah kebutuhan tidur
  • Insomnia
  • Hipersomnia
  • Parasomnia
  • Enuresa
  • Apnea tidur dan mendengkur
  • Narkolepsi
  • Mengigau 

Penatalaksanaan
Masa neonatus dan bayi
  1. Berikan cahaya yang lembut.
  2. Hindari pemberian bantal yang terlalu banyak.
  3. Berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi, misalnya membelai, meminang, bersenandung dan berikan lingkungan yang nyaman.
Masa Toddler ( balita )
  1. Berikan waktu tidur malam dan siang konsisten.
  2. Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
  3. Dukung aktivitas ”pereda ketegangan”, seperti bercerita dan memberikan mainan.
Masa Prasekolah
  1. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
  2. Dukung aktivitas ”pereda ketegangan”, seperti cerita sebelum tidur (dongeng) dan memberikan mainan.
  3. Minum susu sebelum tidur.

Masa Adolensia ( remaja )
  1. Usia ini sering memerlukan waktu sebelum tidur yang cukup lama untuk berdandan dan membersihkan diri.
  2. Makanan tinggi protein seperti susu dan keju dapat meningkatkan rasa ngatuk.
Masa Dewasa (muda, pertengahan dan tua)
  1. Bantu pasien dengan melepas ketegangan sebelum tidur.
  2. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman.

readmore »»  

Syringomyelia

SYRINGOMYELIA




Adalah penyakit degeneratif kronis progressif atau gangguan perkembangan sumsum tulang belakang yang ditandai dengan kelemahan tanpa rasa nyeri serta atrofi otot-otot lengan dan tangan yang disertai kedutan, refleks-refleks tendon menghilang dan terjadi mati rasa segmental tipe dissosiatif

PATOGENESIS
        Cairan cerebrospinal mengalir berdenyut secara normal melalui ruang subarachnoid yang menyelubungi sum-sum tulang belakang dan otak, yang mana membawa nutrisi dan produk-produk sisa. Cairan cerebrospinal juga berfungsi sebagai bantalan otak terhadap guncangan. Kelebihan cairan cerebrospinal di dalam canalis centralis sum-sum tulang belakang disebut hydromyelia. Hydromyelia dapat juga diartikan peningkatan cairan cerebrospinal yang terkandung dalam ependyma dari canalis centralis. Ketka cairan cerebrospinal menyebar ke substansia alba di sekitarnya, membentuk rongga kistik atau syrinx, maka hal ini disebut syringomyelia. Kondisi ini pada kebanyakan kasus disebut juga syringohidromyelia. Namun demikian banyak dokter biasa memakai istilah ini secara bergantian.
      Gerakan berdenyut dari cairan cerebrospinal dalam ruang subarachnoid merupakan hasil dari perbedaan influx dan outflow darah didalam cranium. Total pulsasi cairan cerebrospinal per satu siklus jantung pada orang dewassa sehat sekitar 1 cc. Dikarenakan otak berada pada rongga cranium yang kaku, maka pulsasi cairan cerebrospinal tentunya akan mengalir ke canal spinal   yang alirannya mendekati nol per satu siklus jantung.
     Hal ini telah diamati, bahwa jika adanya obstruksi aliran cairan cerebrospinal dalam ruang subarachnoid, maka akan terbentuk formasi kistik (syrinx). Sejumlah kondisi patologis dapat menimbulkan obstruksi pada aliran cairan cerebrospinal, antara lain malformasi chiari, spinal arachnoiditis, scoliosis, misalignment pada vertebra, tumor spinalis, spina bifida, dan lainnya. Hal-hal yang menghambat aliran cairan cerebrospinal di dalam ruang subarachnoid yang menyebabkan formasi kistik masih belum diketahui. Selain itu, tidak jelas apakah cairan syrinx ini berasal dari sejumlah besar aliran cairan cerebrospinal yang mengalir ke sum-sum tulang belakang, atau dari sejumlah besar aliran transmural darah yang melalui pembuluh darah spinal ke rongga kistik, atau juga kombinasi dari keduanya. Ketika syrinx telah terbentuk, perubahan tekanan sepanjang vertebra merupakan mekanisme yang menyebabkan adanya aliran cairan cerebrospinal di dalam ruang kistik yang memungkinkan kerusakan di sepanjang spinal cord

ETIOLOGI
     Secara umum, ada dua bentuk syringomyelia: bawaan dan acquired. (Selain itu, salah satu bentuk gangguan melibatkan bagian otak yang disebut batang otak .  Brainstem mepunyai banyak fungsi dalam mengontrol  alat vital kita, seperti pernapasan dan detak jantung Ketika syrinx mempengaruhi batang otak, kondisi ini disebut syringobulbia .)
GENETIK
     Bentuk pertama ini berkaitan dengan suatu kelainan yang disebut malformasi Chiari. Hal ini merupakan penyebab paling umum dari syringomyelia dimana kelainan anatomi menyebabkan protrusi dari bagian bawah cerebellum dari lokasi normalnya di belakang kepala atau leher menuju ke bagian cervical canalis spinalis. Syrinx tersebut dapat berkembang di daerah servical canalis spinalis. Dikarenakan adanya hubungan antara otak dan sum sum tulang belakang pada syringomyelia jenis ini, biasanya dokter menyebutnya dengan syringomyelia communicans. Di sini, gejala biasanya dimulai antara usia 25 dan 40 dan dapat memburuk dengan aktivitas apapun yang menyebabkan tekanan cairan cerebrospinal berfluktuasi tiba-tiba, walaupun demikian beberapa pasien memiliki periode stabil yang cukup lama.
     Beberapa pasien dengan bentuk gangguan tersebut juga mengidap hidrosefalus , di mana cairan serebrospinal terakumulasi dalam tengkorak, atau kondisi yang disebut arachnoiditis, yang mana membrane arachnoid yang menyelubungi spinal cord mengalami inflamasi. Pada beberapa kasus syringomyelia, diturunkan walaupun jarang
ACQUIRED
     Bentuk syringomyelia ini biasa diakibatkan dari komplikasi trauma, meningitis, perdarahan, tumor, atau arachnoiditis. Di sini, syrinx atau kista berkembang dalam segmen dari sumsum tulang belakang yang rusak oleh salah satu kondisi tersebut. Syrinx kemudian mulai berkembang. Hal ini terkadang disebut juga non-communicans syringomyelia. Gejala mungkin muncul bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah cedera awal, dimulai dengan rasa sakit, kelemahan, dan penurunan sensorik berasal di lokasi trauma.
Gejala utama syringomyelia pasca traumatic (PTS) adalah rasa sakit yang dapat menyebar ke atas dari lokasi cedera. Gejala, seperti nyeri, mati rasa, kelemahan, dan gangguan dalam sensasi suhu, mungkin terbatas pada satu sisi tubuh. Syringomyelia juga dapat mempengaruhi keringat, fungsi seksual, dan, kemudian, kandung kemih dan kontrol usus
PTS terkadang sulit didiagnosa dikarenakan gejala pertama muncul biasanya cukup lama dari penyebab sebenar terjadinya terjadinya syrinx. misalnya kecelakaan mobil terjadi dan kemudian pasien PTS mengalami gejala seperti sakit, kehilangan sensasi, mengurangi kemampuan pada kulit merasakan berbagai tingkat panas dan dingin, pertama, beberapa bulan setelah kecelakaan mobil.

GEJALA
     Syringomyelia menyebabkan berbagai gejala neuropati akibat kerusakan pada sumsum tulang belakang. Pasien mungkin mengalami sakit kronis, sensasi abnormal dan hilangnya sensasi khususnya di tangan. Beberapa pasien mengalami kelumpuhan atau kelumpuhan sementara atau permanen. syrinx dapat juga menyebabkan gangguan di parasimpatis dan sistem saraf simpatik , yang menyebabkan suhu tubuh normal atau berkeringat, pengendalian masalah usus, atau masalah lain.
     Jika syrinx lebih tinggi sampai di sumsum tulang belakang atau mempengaruhi otak seperti pada syringobulbia, kelumpuhan vokal kabel , wasting lidah ipsilateral, saraf trigeminal kehilangan sensori, dan tanda lainnya mungkin terjadi. Terkadang, batu kandung kemih dapat terjadi di awal kelemahan ekstremitas bawah. biasanya, syringomyelia membagi  columna dorsal / lemniscus medial dari sumsum tulang belakang, meninggalkan tekanan, getaran, sentuhan dan proprioception ekstremitas atas.


DIAGNOSIS
     Dokter sekarang menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendiagnosis syringomyelia. Tes ini akan menunjukkan syrinx di tulang belakang atau kondisi lain, seperti adanya tumor. MRI aman, tanpa rasa sakit, dan informatif dan telah sangat meningkatkan diagnosis syringomyelia. Dokter dapat meminta tes tambahan untuk mengkonfirmasikan diagnosis, Salah satunya adalah disebut elektromiografi (EMG), yang mengukur kelemahan otot. Dokter juga mungkin ingin menguji tingkat tekanan cairan serebrospinal dan menganalisis cairan serebrospinal dengan melakukan pungsi lumbal. Selain itu, tomografi aksial dihitung (CT) scan dari kepala pasien mungkin mengungkapkan adanya tumor dan kelainan lain seperti hidrosefalus.
     Seperti MRI dan CT scan, tes lain, yang disebut myelogram , menggunakan radiografi dan membutuhkan media kontras yang harus disuntikkan ke dalam ruang subarachnoid. Sejak diperkenalkannya MRI tes ini jarang diperlukan untuk mendiagnosis syringomyelia.
     Penyebab yang mungkin adalah trauma, tumor dan cacat bawaan. Hal ini biasanya diamati di bagian  sumsum tulang belakang yang berhubungan dengan daerah leher. Gejala akibat kerusakan sumsum tulang belakang dan adalah: nyeri, penurunan sensasi sentuhan, kelemahan dan hilangnya jaringan otot. Diagnosis dikonfirmasikan dengan myelogram, CT atau MRI tulang belakang dari sumsum tulang belakang. Rongga ini dapat dikurangi dengan dekompresi bedah

TERAPI
OPERASI
      Pembedahan adalah pengobatan yang layak hanya untuk syringomyelia, Tidak semua pasien akan maju ke tahap di mana operasi diperlukan. Evaluasi kondisi ini seringkali sulit karena syringomyelia dapat tetap diam untuk jangka waktu yang lama, dan dalam beberapa kasus berkembang secara pesat. prosedur bedah pada tulang belakang harus ditimbang dengan kemungkinan komplikasi yang terkait dengan prosedur apapun. Bedah pengobatan ditujukan untuk memperbaiki kondisi yang memungkinkan terbentuknya syrinx.
      Dalam kasus yang melibatkan malformasi Arnold-Chiari, tujuan utama operasi adalah untuk memberikan ruang lebih banyak untuk otak kecil di dasar tengkorak dan bagian atas tulang belakang leher tanpa melibatkan  otak atau sumsum tulang belakang. Ini sering mengakibatkan merata atau hilangnya syrinx primer atau cavitas, dari waktu ke waktu, sampai aliran normal cairan serebrospinal kembali. Jika tumor menyebabkan syringomyelia, pengangkatan tumor adalah pengobatan pilihan dan hampir selalu menghilangkan syrinx tersebut.
      Keterlambatan pengobatan mungkin mengakibatkan cedera saraf tulang belakang ireversibel, Terulangnya syringomyelia setelah operasi mungkin membuat operasi tambahan yang diperlukan, ini mungkin tidak sepenuhnya berhasil dalam jangka panjang
      Pada beberapa pasien mungkin juga diperlukan untuk mengeringkan syrinx, yang dapat dilakukan dengan menggunakan kateter, tabung drainase, dan katup. Sistem ini juga dikenal sebagai shunt. Shunts digunakan baik gangguan syringomyelia communicans dan noncommunicans. Pertama, ahli bedah harus mencari syrinx tersebut, Kemudian, shunt ditempatkan ke dalamnya dengan ujung pengeringan cerebrospinal fluid (CSF) ke dalam rongga, biasanya perut. Jenis ini disebut shunt shunt ventriculoperitoneal dan sangat berguna dalam kasus yang melibatkan hidrosefalus. Dengan mengeringkan cairan syrinx, shunt bisa menghentikan perkembangan gejala dan mengurangi rasa sakit, sakit kepala, dan sesak. Tanpa adanya terapi, gejala biasanya berlanjut.
     Keputusan untuk menggunakan shunt membutuhkan diskusi yang baik antara dokter dan pasien. karena prosedur ini disertai dengan risiko yang lebih besar daripada cedera pada tulang belakang, infeksi, sumbatan, atau perdarahan dan mungkin tidak selalu bekerja dengan baik untuk semua pasien. Mengeringkan syrinx dengan lebih cepat tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik, namun shunt dibutuhkan jika syrinx tidak dapat dikeringkan.

TERAPI LAINNYA
      Operasi tidak selalu direkomendasikan untuk pasien syringomyelia, Bagi banyak pasien, pengobatan utama adalah analgesia. Terapi tipikal pada syringomyelia yang menyebabkan beberapa nyeri kronik, membutuhkan 2 atau lebih kombinasi obat. Golongan opioid lemah maupun kuat dipakai untuk menghilangkan nyeri punggug (Tramadol dan oxycontin) dikombinasikan dengan terpai untuk meredakan nyeri neuropathy (neurontin/lyrica). Sebagai tambahan dapat juga diberikan paracetamol (di USA dikenal dengan acetaminophen) dapat digunakan untuk meredakan nyeri kepala.
      Obat tidak memiliki nilai kuratif sebagai pengobatan untuk syringomyelia, Radiasi yang digunakan adalah jarang dan sedikit manfaat kecuali di hadapan tumor. Radiasi jarang digunakan dan sedikit manfaat kecuali terhadap tumor.
      Dengan tidak adanya gejala, syringomyelia biasanya tidak diobati, Selain itu, dokter mungkin menyarankan untuk tidak merawat kondisi pada pasien usia lanjut atau dalam kasus di mana tidak ada kemajuan.  Karena riwayat alami dari syringomyelia kurang dipahami, pendekatan konservatif sangat mungkin dianjurkan.
readmore »»  

Pencegahan Persalinan Preterm


Pencegahan Persalinan Preterm



Perasalinan preterm  adalah persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir yang ditandai dengan peningkatan aktivitas uterus dan perubahan serviks sehingga menyebabkan persalinan. Di negara berkembang insidennya sekitar 7% dari seluruh persalinan. Di berbagai negara, angka kejadian persalinan preterm berkisar antara 5 – 15%, di Indonesia sendiri kejadian persalinan preterm berkisar antara 10 - 20 %

Persalinan preterm merupakan hal yang berbahaya karena potensial meningkatkan kematian perinatal sebesar 65%-75%, umumnya berkaitan dengan berat lahir rendah. Berat lahir rendah dapat disebabkan oleh kelahiran preterm dan  pertumbuhan janin yang terhambat. Keduanya sebaiknya  dicegah karena dampaknya yang negatif; tidak hanya kematian perinatal tetapi juga morbiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa secara keseluruhan.

ETIOLOGI
Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti persalinan preterm tidak diketahui. Berbagai sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan preterm, seperti: solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus, polihidramnion, kelainan kongenital janin, ketuban pecah dini dan lain-lain. Penyebab  persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain karena infeksi. Infeksi pada kehamilan akan menyebabkan suatu respon imunologik spesifik melalui aktifasi sel limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-zat yang menginisiasi kontraksi uterus. Terdapat makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus persalinan preterm berkaitan dengan  infeksi membran korioamnion.

Dari penelitian didapati 38% persalinan preterm disebabkan akibat  infeksi korioamnion. Knox dan Hoerner telah mengetahui hubungan antara infeksi jalan lahir dengan kelahiran prematur. Bobbitt dan Ledger membuktikan infeksi  amnion subklinis sebagai penyebab kelahiran preterm. Dengan amniosentesis didapati bakteri patogen pada + 20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban utuh dan tanpa agejala klinis infeksi .
Cara masuknya kuman penyebab infeksi amnion, dapat sebagai berikut
1) Melalui jalur transervikal masuk ke dalam selaput  amniokorion dan cairan amnion. E. coli dapat  menembus  membran korioamnion.
2)  Melalui jalur transervikal ke desidua/chorionic junction pada segmen bawah rahim.
3)  Penetrasi langsung ke dalam jaringan serviks.
4)  Secara hematogen ke plasenta dan selaputnya.
5)  Secara hematogen ke miometrium
Selain itu endotoksin dapat masuk ke dalam rongga amnion secara difusi tanpa kolonisasi bakteri dalam cairan amnion

Infeksi dan proses inflamasi amnion merupakan salah satu faktor yang dapat memulai kontraksi uterus dan persalinan preterm. Menurut Schwarz, partus aterm diinisiasi oleh aktivasi enzim phospholipase A2 yang dapat melepaskan asam arakidonat dari membran janin sehingga terbentuk asam arakidonat bebas yang merupakan bahan dasar sintesis prostaglandin. Bejar dkk melaporkan sejumlah mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim phospholipase A2 sehingga dapat menginisiasi terjadinya persalinan preterm. Bennett dan Elder menunjukkan  bahwa mediator-mediator dapat merangsang timbulnya  kontraksi uterus dan partus preterm melalui pengaruhnya terhadap biosintesis prostaglandin.4

Faktor Risiko Prematuritas
Mayor
1.  Kehamilan multipel
2.  Hidramnion
3.  Anomali uterus
4.  Serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
5.  Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu
6.  Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali
7.  Riwayat persalinan preterm sebelumnya
8.  Operasi abdominal pada kehamilan preterm
9.  Riwayat operasi konisasi
10. Iritabilitas uterus

Minor
  1. Penyakit yang disertai demam
  2.  Perdarahan pervaginam setelah kehamilan 12 minggu
  3. Riwayat pielonefritis
  4. Merokok lebih dari 10 batang perhari
  5. Riwayat abortus pada trimester II
  6. Riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali
Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai satu atau lebih faktor risiko mayor; atau dua atau lebih faktor risiko minor; atau keduanya.

Kondisi selama kehamilan yg beresiko terjadinya persalinan preterm adalah 

1. Janin dan plasenta
                a. perdarahan trimester pertama
                b. perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa)
                c. Ketuban pecah dini
                d. Pertumbuhan janin terhambat
                e. Cacat bawaan Janin
                f. Kehamilan ganda / gemeli
                g. Polihidramnion
2. ibu
                a. Penyakit berat pada ibu
                b. Diabetes Melitus
                c. Preeklampsia / hipertensi
                d. Infeksi Saluran Kemih / genital / intrauterin
                e. Penyakit infeksi dengan demam
                f. Stress Psikologik
                g. Kelainan bentuk uterus / serviks
                h. Riwayat persalinan preterm / abortus berulang
                i. Inkompetensi serviks (panjang serviks ≤ 1 cm
PATOGENESIS PERSALINAN PRETERM
A. Karena Infeksi     

         
B. Karena Perdarahan



C. Karena Kehamilan Ganda (Gemeli)  


                 
DIAGNOSIS
Beberapa kriteria yang dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm :
1. Kontraksi yang berulang sedikitnya tiap 7-8 menit sekali atau 2-3 kali dalam 10 menit
2. Nyeri Punggung bawah (Low Back Pain)
3. Perdarahan bercak
4. Perasaan menekan daerah servik
5. pemeriksaan servik menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan hingga 80%
6. Presentasi janin rendah sampai mencapai spina ischiadica
7. Selaput ketuban pecah dapata merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
8. Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu
Berbagai Indikator telah dikemukakan untuk pengenalan dini resiko terjadinya persalinan preterm antara lain 

Indikator klinik.
1. Timbulnya kontraksi dan pemendekan servik (secara manual atau USG)
2. Terjadi ketuban pecah dini

Indikator laboratorium. :
1. leukosit dalam air ketuban (20/ml atau lebih)
2. C-Reactive Protein lebih dari 0.7 mg /ml
3. Leukosit dalam serum ibu lebih dari 13.000/ml
Indikator Biokimia.
  1. Fibronektin janin : Kadar meningkat pada vagina, serviks, air ketuban memberikan indikasi adanya gangguan pada hubungan antara korion dan desidua. Pada kehamilan ≥ 24 minggu, kadar fibronektin janin ≥ 50 ng/ml mengindikasikan resiko preterm
  2. Corticotropin Releasing Hormon : Kasus-kasus persalinan preterm yang berkaitan dngan stress akan disertai dengan peningkatan kadar CRH pada serum ibu. Peningkatan dini / pada trimester kedua merupakan indikator kuat terjadinya persalinan preterm
  3. Sitokin inflamasi : Seperti IL-1β, IL-6, IL-8 dan TNFα telah di teliti sebagai indikator yang makin berperan pada PGE. IL-6 merupakan sitokin yang paling dominan diekspresikan dalam air ketuban. dengan nilai batas (cutoff) 3000pg/ml IL-6 dalam air ketuan akan beresiko untuk terjadinya persalinan preterm.
  4. Isoferitin Plasenta : Isoferritin Plasenta adalah protein yang diekspresi oleh sel limnfosit T (T-Cell/CD-4) pada plasenta. Penurunan kadar isoferritin dalam serum kurang dari 15,8 ± 15,7 U/ml akan beresiko untuk terjadinya persalinan preterm dengan nilai prediksi positip 59%

PENATALAKSANAAN
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah7,8,9:
1. menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
2. pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
3. pencegahan terhadap infeksi dengan pemberian antibiotik
4. Emergency cerclage
5. Perencanaan persalinan

PENCEGAHAN
Pada umumnya pencegahan persalinan prematur dapat dilakukan melalui tiga jenis upaya yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier'

Pencegahan primer : pencegahan melalui pendekatan pada faktor resiko untuk terjadinya persalinan prematur, faktor yang sering menimbulkan resiko kejadian persalinan prematur adalah merokok, mengkonsumsi obat-obatan dan alkohol, serta faktor nutrisi

Pencegahan sekunder : pada tahap gejala klinis belum tampak nyata, tetapi proses secara patologis sudah berjalan, upaya pencegahan pada tahap ini dapat menghambat atau menghentikan proses patologis supaya tidak berkembang

Pencegahan tersier  : upaya pencegahan persalinan prematur pada saat gejala secara klinis sudah nyata didapatkan. tahap ini ditujukan untuk memperpanjang masa kehamilan dengan maksud memberikan kesempatan untuk memperbaiki kualitas janin dan mempersiapkan persalinan yang memadai.
Upaya historis telah dilakukan terutama ditujukan untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan kesehatan bayi prematur (tersier intervensi). Namun upaya-upaya tersebut tidak mengurangi kejadian kelahiran prematur. Peningkatan  intervensi utama yang diarahkan pada semua wanita, dan intervensi sekunder untuk mengurangi resiko yang ada, dipandang perlu sebagai langkah-langkah untuk dikembangkan dan dilaksanakan guna mencegah masalah kesehatan bayi prematur dan anak-anak.

Prakonsepsi
Meningkatkan kesadaran publik dan profesional mengenai ruang lingkup masalah dan maknanya sebagai penyumbang utama kematian bayi merupakan awal untuk mengurangi faktor risiko dapat dihindari. Di antara mereka adalah kebutuhan untuk mengurangi instrumentasi rahim berulang (yaitu bedah aborsi berulang) dan untuk menghindari pilihan yang berisiko dalam perawatan infertilitas. Adopsi kebijakan profesional tertentu dapat mengurangi risiko kelahiran prematur sebagaimana pengalaman dalam penangan kasus  reproduksi terbatas. Banyak negara telah membentuk program khusus untuk melindungi wanita hamil dari berbahaya terkait shift malam. pekerjaan, menyediakan mereka dengan waktu untuk kunjungan prenatal dan dibayar kehamilan-pergi. Penelitian menunjukkan bahwa kelahiran prematur tidak berhubungan dengan jenis pekerjaan, tapi untuk bekerja berkepanjangan (lebih dari 42 jam per minggu) atau berdiri terlalu lama (lebih dari 6 jam per hari). Juga, kerja malam telah dikaitkan dengan kelahiran prematur. Kebijakan kesehatan yang memperhitungkan hal ini dapat diharapkan untuk mengurangi tingkat kelahiran prematur. Penting menghindari berat badan ekstrim dan dukungan nutrisi yang baik.
Meskipun studi gagal untuk menunjukkan bahwa persiapan multivitamin diambil sebelum konsepsi mengurangi risiko kelahiran prematur, asupan asam folat prakonsepsi dianjurkan untuk mengurangi cacat lahir. Ada bukti yang signifikan bahwa jangka panjang (> satu tahun) penggunaan suplemen asam folat dapat mengurangi preconceptionally kelahiran prematur. Mengurangi merokok diharapkan dapat memberikan manfaat pada wanita hamil dan keturunan mereka.

Selama kehamilan
Intervensi yang seharusnya telah dimulai sebelum kehamilan masih dapat lakukan selama kehamilan, termasuk penyesuaian nutrisi, penggunaan suplemen vitamin, dan berhenti merokok, suplemen Kalsium serta asupan suplemen vitamin C dan E. Tidak dapat ditampilkan untuk mengurangi kelahiran prematur tarif. Strategi yang berbeda digunakan dalam administrasi perawatan prenatal, dan studi masa depan perlu untuk menentukan apakah harus fokus pada skrining bagi perempuan berisiko tinggi, atau melebar dukungan untuk perempuan berisiko rendah, atau untuk apa gelar pendekatan ini harus digabung. Sementara infeksi periodontal telah dikaitkan dengan kelahiran prematur, percobaan acak tidak menunjukkan bahwa perawatan periodontal selama kehamilan mengurangi tingkat kelahiran prematur

Screening perempuan berisiko rendah
Skrining untuk bakteriuria asimtomatik diikuti dengan pengobatan yang tepat mengurangi pielonefritis dan mengurangi risiko lahir prematur. studi ekstensif telah dilakukan untuk menentukan apakah bentuk lain dari skrining pada wanita berisiko rendah diikuti dengan intervensi yang tepat yang bermanfaat, termasuk: Skrining untuk. dan pengobatan Ureaplasma urealyticum, streptokokus grup B, Trichomonas vaginalis, dan vaginosis bakteri tidak mengurangi tingkat kelahiran prematur. USG rutin pemeriksaan dari panjang serviks mengidentifikasi pasien pada risiko,. tapi cerclage tidak terbukti berguna, dan penerapan progesteron yang berada di bawah studi. Skrining untuk kehadiran fibronektin dalam cairan vagina tidak dianjurkan saat ini pada wanita berisiko rendah.

Perawatan diri
Perawatan diri merupakan metode untuk mengurangi risiko kelahiran prematur meliputi nutrisi yang tepat, menghindari stres, mencari perawatan medis yang tepat, menghindari infeksi, dan kontrol faktor risiko kelahiran prematur (misalnya bekerja berjam-jam sambil berdiri, paparan karbon monoksida, kekerasan dalam rumah tangga , dan faktor lainnya). Pemantauan diri pH vagina diikuti dengan pengobatan yoghurt atau pengobatan klindamisin jika pH terlalu tinggi semua tampaknya efektif untuk mengurangi risiko lahir prematur 

Wanita diidentifikasi berada pada peningkatan risiko untuk lahir prematur berdasarkan riwayat masa lalu kandungan mereka atau adanya faktor risiko yang diketahui. Prakonsepsi intervensi dapat membantu pada pasien yang dipilih dalam beberapa cara. Pasien dengan anomali uterus tertentu mungkin memiliki koreksi bedah (pengangkatan yaitu dari septum uterus), dan mereka dengan masalah medis tertentu dapat dibantu dengan mengoptimalkan medis sebelum konsepsi, baik untuk asma, diabetes, hipertensi dan lain-lain

Bed Rest
Pengurangan dalam kegiatan ibu meliputi pengistirahatan panggul, kerja terbatas, istirahat di tempat tidur - sering dianjurkan meskipun tidak ada bukti yang jelas dari kemanjurannya. Juga, meningkatkan perawatan medis dengan kunjungan yang lebih sering dan lebih banyak pendidikan belum menunjukkan penurunan tingkat kelahiran prematur.  Penggunaan suplemen gizi seperti omega-3 asam lemak tak jenuh ganda didasarkan pada pengamatan bahwa populasi yang memiliki asupan tinggi agen tersebut berada pada risiko rendah untuk kelahiran prematur, mungkin sebagai agen-agen menghambat produksi sitokin pro inflamasi. Sebuah uji coba secara acak menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat kelahiran prematur,  dan studi lebih lanjut dalam pembuatan.

Antibiotik
Studi memeriksa penggunaan antibiotik telah memberi hasil beragam, sebuah tinjauan Cochrane dari 15 percobaan menunjukkan tidak ada manfaat besar, kontras review oleh Lamont menyarankan bahwa pengobatan vaginosis bakteri jika dimulai sebelum usia kehamilan 20 minggu menguntungkan. Ia telah mengemukakan bahwa kehadiran korioamnionitis kronis tidak mungkin dapat digunakan untuk antibiotik, sehingga kesulitan untuk menunjukkan efektivitas mereka.
Pada Ibu dengan ancaman persalinan prematur dan terdeteksi adanya vaginosis bakterial, pemberian klindamisin (2x300mg perhari selama 7 hari) atau Metronidazol (2x500mg perhari selama 7 hari) akan bermanfaat bila diberikan pada usia kehamilan <32 minggu.

Progesteron
Progesteron, sering diberikan dalam bentuk 17-hidroksiprogesteron caproate, melemaskan otot-otot rahim, mempertahankan panjang serviks, dan memiliki sifat anti-inflamasi, dan dengan demikian diberikannya kegiatan diharapkan akan bermanfaat dalam mengurangi kelahiran prematur. Dua meta-analisis menunjukkan pengurangan dalam risiko kelahiran prematur pada wanita dengan kelahiran prematur berulang oleh 40-55%. Namun, progesteron tidak efektif dalam semua populasi, sebagai studi yang melibatkan kehamilan kembar gagal untuk melihat manfaat apapun.

Cerclage serviks
Dalam persiapan untuk persalinan, leher rahim wanita lebih pendek. Serviks memendek dikaitkan dengan kelahiran prematur dan dapat dideteksi dengan ultrasonografi. Cerclage serviks adalah intervensi bedah yang menempatkan jahitan sekitar leher rahim untuk mencegah pemendekan dan melebar. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menilai nilai cerclage serviks dan prosedur muncul membantu terutama untuk wanita dengan leher rahim pendek dan riwayat lahir prematur. Alih-alih cerclage profilaksis, wanita berisiko bisa dimonitor selama kehamilan oleh sonografi , dan ketika pemendekan serviks diamati, cerclage dapat dilakukan.

Hidrasi dan Sedasi
Hidrasi oral maupun intravena sering dilakukan untuk mencegah persalinan prematur. Mekanisme biologisnya belum diketahui pasti. Berdasarkan percobaan pada binatang menunjukkan bahwa hidrasi menghambat hormon antidiuresis (ADH) dan ekspansi volume plasma, karena pada ibu dengan ancaman persalinan prematur sering didapatkan  hipovolemi.  Hidrasi yang berlebihan disertai dengan pemberian tokolitik betamimetik dapat menimbulkan edema paru

Inhibisi kontraksi dengan tokolitik
Pencegahan tersier adalah intervensi yang dilakukan apabila persalinan prematur tidak dapat dicegah lagi. Tujuannya adalah untuk menurunkan morbiditasdan mortalitas akibat persalinan prematur dengan cara merujuk ibu dalam kehamilan ke tempat persalinan yang lebih baik

Obat-obatan tokolitik yang dimaksud antara lain
  1. Beta2-sympathomimetics : Preparat yang biasa dipakai adalah ritodrine, terbutaline, salbutamol, isoxsuprine, fenoterol dan hexoprenaline. Kontraindikasi pemberian adalah penyakit jantung pada ibu, hipertensi atau hipotensi, hipertiroid, diabetes. Efek samping yang dapat terjadi yaitu; palpitasi, mual, sakit kepala, nyeri dada, hipotensi, aritmia jantung, edema paru, hiperglikemi dan hipokalemi. Efek samping pada janin antara lain; fetal takhikardia, hipoglikemik, hipokalemi, hipotensi.
  2. Indomethacin : Indomethacin adalah golongan antiinflamasi nonsteroid yang akan menghambat enzym COX (cyclo-oxygenase) sehingga mempengaruhi metabolisme prostaglandin. Indomethacin jarang menyebabkan efek samping pada ibu hamil, namun apabila terjadi, efek samping dapat berupa ulkus peptikum, perdarahan gastrointestinal, trombositopeni, reaksi alergi, gagal ginjal dan hipertensi berat bia dipakai bersama betablockers.
  3. 3.  COX (cyclo-oxygenase)-2 inhibitors: Merupakan enzim spesifik yang berperan pada mekanisme persalinan prematur dan efek sampingnya akan lebih ringan dibandingkan dengan inhibitor COX yang tidak spesifik seperti indomethacin.
  4. Atosiban : Atosiban adalah suatu analog oksitosin yang bekerja pada reseptor oksitosin dan vasopresin. Diberikan secara parenteral. Meskipun lebih mahal dibandingkan nifedipin, namun lisensinya yang diperuntukkan pencegahan prematur dan keamanan pada ibu menyebabkan obat ini dipakai sebagai tokolitik lini pertama.
  5. Nifedipin : Nifedipin adalah antagonis kalsium yang diberikan peroral dan harganya murah. Menurut analisis Cochrane yang membandingkan nifedipin dengan tokolitik yang lain, juga membuktikan hambatan terhadap persalinan dan berkurangnya persalinan prematur < 34 minggu. Dosis yang diberikan 3x10mg per hari. Efek samping yang muingkin terjadi yaitu edema paru akut.
  6. Magnesium Sulfat : Magnesium sulfat dipakai sebagai tokolitik yang diberikan secara parenteral di USA. Mekanismenya belum jelas mungkin terlibat dalam kompetisi antara kalsium intraseluler dengan hiperpolarisasi membran sel. Terdapat berbagai macam efek samping yang ditemui seperti; sakit kepala, nistagmus, rasa kering pada mulut, rasa lelah dan pada pasien dengan gangguan ginjal dapat terjadi gangguan neuromuskuler.

KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang mungkin terjadi 10
o  Mengalami Kelainan Jangka Pendek
     -  RDS (Respiratory Distress Syndrom)
     -  Perdarahan Intra/periventrikuler
     -  NEC (Necrotizing Entero Cillitis)
     -  Displasi bronko pulmonar
     -  Sepsis
     -  Paten Ductus Arteriosus
o Mengalami Kelainan Jangka Panjang
     - Cerebral Palsy
     -  Retinopati
     -  Retardasi Mental
     -  Disfungsi Neurobehavioral dan prestasi sekolah yang kurang baik
o  Kematian Perinatal

PROGNOSA
Pada kehamilan umur 32 minggu dengan berat bayi > 1500 gr keberhasilan hidup sekitar 85%, sedang dengan berat bayi < 1500gr keberhasilan sekitar 80%. Pada Kehamilan umur < 32 minggu dengan berat bayi < 1500gr angka keberhasilan hanya 59%.
readmore »»