Thursday, January 10, 2013

Gangguan Tidur



GANGGUAN TIDUR

Pengertian Tidur
       Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniyah yang berbeda (Tarwanto dan Wartonah, 2006: 100).

Fisiologi Tidur

Gambar 2.1 Fisiologi Tidur

       Kontrol dan regulasi tidur tergantung pada interrelasi antara dua mekanisme serebral yang bekerja saling berlawanan antara yang satu dengan lainnya. Keduanya secara intermiten mengaktivasi dan mensupresi pusat luhur di otak yang mengontrol tidur dan terjaga. Satu mekanisme menyebabkan individu terjaga, sedangkan mekanisme lainnya menyebabkan individu tertidur.
         Sistem pengaktipan reticular (reticular activating system/RAS) terletak dalam batang otak atas (upper brainstem). RAS diyakini mengandung sel-sel khusus yang mempertahankan keadaan siaga dan terjaga. RAS menerima input rangsang sensori visual, auditori dan nyeri serta rangsang raba. Aktivitas dari serebral kortek (seperti emosi dan proses berfikir) juga menstimulasi RAS. Studi yang dilaporkan oleh Canavan (1984) dan Chuman (1983) dalam Potter & Perry (1993) meyakini bahwa keadaan terjaga merupakan akibat dari neuron-neuron yang ada dalam RAS melepaskan katekolamin seperti hormon norepineprin.
        Tidur dapat juga ditimbulkan oleh pelepasan serotonin dari sel khusus dalam raphe sleep system pada pons dan bagian medial dari otak depan. Area otak ini disebut juga sebagai regio pengsinkronan bulbar (bulbar synchronizing region/BSR). Bagaimana seseorang dapat mempertahankan keadaan terjaga atau keadaan tidur bergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat otak (seperti, berfikir); reseptor sensori perifer seperti stimuli bunyi dan cahaya; dan sistem limbik atau emosi (Potter & Parry,1993).
        Seorang yang mencoba untuk tidur, akan menutupkan matanya dan mengatur posisinya sehingga rilek. Stimulus pada RAS menjadi menurun. Jika ruangan digelapkan dan tenang, maka aktivasi RAS akan semakin menurun. Pada suatu saat BSR akan mengambil alih, sehingga menyebabkan individu menjadi tertidur (Potter & Perry, 1993).

Tahapan Tidur



Tahap NREM (Non Rapid Eye Movement)
Tahap I
Tahap I merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri sebagai berikut : rileks, masih sadar dengan lingkungan, frekuensi nadi dan nafas sedikit menurun, bola mata bergerak dari samping ke samping, dapat bangun segera selama tahap ini. Tahap ini berlangsung selama 5 menit.
Tahap II
Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri sebagai berikut : bola mata berhenti bergerak, temperatur tubuh menurun, serta frekuensi nadi dan nafas menurun secara jelas. Tahap ini berlangsung sekitar 10-15 menit.
Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi nafas serta proses tubuh lainnya lambat, awal dari keadaan tidur lelap, disebabkan adanya dominasi sistem syaraf parasimpatis dan sulit untuk dibangunkan. Berlangsung 15-30 menit.
Tahap IV
Tahap IV merupakan tahap tidur nyenyak, sulit dibangunkan gerakan bola mata cepat, sekresi lambung menurun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, serta tonus otot menurun.

Tahap REM (Rapid Eye Movement)
Pada tahap ini seseorang sulit dibangunkan, mata tertutup dan terbuka dengan cepat, frekuensi nadi dan nafas menjadi tidak teratur, tekanan darah meningkat, sekresi gaster meningkat, temperatur tubuh meningkat, kejang otot kecil dan otot besar imobilisasi. Tahap ini penting untuk perkembangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.



Pola dan kebutuhan tidur
1. Neonatus sampai dengan 3 bulan 16 jam/hari
    Minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM
2. Bayi
    Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam
    Usia 1 bulan sampai 1 tahun kira-kira tidur 14 jam/hari
    Tahap Rem 20-30%
3. Toddler
    Tidur 11-12 jam/hari
    Tahap REM 25%
4. Prasekolah
    Tidur 10-12  jam/hari
    Tahap REM 20%
5.  Usia sekolah
    Tidur 10 jam pada malam hari
    Tahap REM 18,5%
6. Adolensia
    Tidur 8,5 jam pada malam hari
    Tahap REM 20%
7.  Dewasa muda
     Tidur 7-8 jam/hari
     Tahap REM 20%-25%
8.  Usia dewasa pertengahan
     Tidur 7 jam/hari
     Tahap REM 20%
9.  Usia tua
    Tidur 6 jam/hari
    Tahap REM 20-25%
    Tahap IV NREM menurun dan kadang-kadang absen
    Sering terbangun pada malam hari


Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
1.   Penyakit
      Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan   tidur, misalnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi akan memerlukan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bias tidur.
2.   Lingkungan
      Keadaan lingkungan yang aman dan yaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur.
3.   Motivasi
    Motivasi adalah suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
4.   Kelelahan
      kelelahan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan, hal tersebut terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Orang yang mengalami kelelahan akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya diperpendek.
5.   Kecemasan
      Kondisi cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf parasimpatis sehingga mengganggu tidurnya.
6.   Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Protein yang tinggi dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya tryptophan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna.
7.  Alkohol
     Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.
8.   Obat-obatan
      Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat memperngaruhi proses tidur adalah jenis golongan obat diuretik menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya insomnia dan golongan narkotika dapat menekan REM sehingga mudah mengantuk.

Masalah kebutuhan tidur
1.  Insomnia
Adalah ketidak mampuan memperoleh secara cukup kualitas dan kuantitas tidur. Insomnia bukan berarti sama sekali seseorang tidak dapat tidur atau kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama dari yang mereka perkirakan, tetapi kualitasnya kurang. Ada 3 macam insomnia yaitu initial insomnia adalah ketidakmampuan untuk mengawali tidur, intermitent insomnia merupakan ketikmampuan untuk tetap mempertahankan tidur karena sering terbangun dan terminal insomnia adalah bangun lebih awal tetapi tidak pernah tertidur kembali. Penyebab insomnia adalah ketidakmampuan fisik, kecemasan dan kebiasaan minum alkohol dalam jumlah banyak.
2. Hipersomnia
Berlebihan jam tidur dimalam hari, lebih dari 9 jam, biasanya disebabkan oleh depresi, kerusakan syaraf tepi, beberapa penyakit ginjal, liver dan metabolisme.
3.  Parasomnia
Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur, seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalm tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM. Somnabulisme dapat menyebabkan cedera.
4.   Enuresa
Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur, atau biasa juga disebut mengompol. Enuresa dibagi menjadi dua jenis, yaitu : enuresa noktural merupakan mengompol di waktu tidur dan enuresa diurnal adalah mengompol pada saat bangun tidur. Enuresa noktural umumnya merupakan gangguan pada tidur NREM.
5.  Apnea tidur dan mendengkur
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah. Mendengkur sendiri disebabkan oleh adanya rintangan dalam pengaliran udara dihidung dan mulut pada waktu tidur, biasanya disebabkan oleh adanya adenoid, amandel dan mengendurnya otot di belakang mulut. Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya pernafasan sehingga dapat mengakibatkan henti nafas. Bila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
6.  Narkolepsi
Narcolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur, misalnya tetidur dalm keadaan berdiri, mengemudi kendaraan, atau disaat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis.
7.   Mengigau
Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan diluar kebiasaan. Ditemukan bahwa hampir semua orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM.

Tanda-tanda Kekurangan Tidur
Apabila seseorang kehilangan tidur NREM
  1. Menarik diri, apatis dan respons menurun.
  2. Merasa tidak enak badan.
  3. Ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak dikelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung).
  4. Malas berbicara.              
  5. Kantuk yang berlebihan (sering menguap).
Apabila seseorang kehilangan waktu REM
  1. Kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun.
  2. Tidak mampu untuk berkonsentrasi (kurang perhatian).
  3. Terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing.
  4. Sulit melakukan aktivitas sehari-hari.
  5. Daya ingat berkurang, bingung, timbul halusinasi,dan ilusi penglihatan atau pendengaran.

Kuantitas dan kualitas tidur
Kuantitas tidur
Kuantitas tidur adalah jumlah tidur seseorang pada siang dan malam hari yang biasanya dihitung dengan jumlah waktu (jam).
  1. Neonatus sampai dengan 3 bulan. Tidur 16 jam/hari, 5-6 jam tidur siang dan 10-11 jam malam hari.
  2. Bayi. Tidur 14 jam/hari, 2-4 jam tidur siang dan 10-11 jam malam hari.
  3. Toddler. Tidur 11-12 jam/hari, 1-3 jam tidur siang dan 9-10 jam malam hari.
  4. Prasekolah. Tidur 11 jam/hari, 0-1 jam tidur siang dan 10-11 jam malam hari. Pada usia 5 tahun anak sudah tidak membutuhkan tidur siang.
  5. Usia sekolah. Tidur 10 jam pada malam hari.
  6. Adolensia. Tidur 8,5 jam pada malam hari.
  7. Dewasa muda. Tidur 7-8 jam/hari.
  8. Usia dewasa pertengahan. Tidur 7 jam/hari.
  9. Usia tua. Tidur 6 jam/hari.
Kualitas tidur
      Kualitas adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman disekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006 : 130). Seseorang dikatakan memenuhi kualitas tidur bila seseorang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Tanda-tanda kekurangan tidur dapat dibagi menjadi tanda fisik dan tanda psikologis.
1. Tanda fisik
  • Ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak dikelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung).
  • Kantuk yang berlebihan (sering menguap).
  • Tidak mampu untuk berkonsentrasi (kurang perhatian).
  • Terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing.
2.  Tanda psikologis
  • Menarik diri, apatis dan respons menurun.
  • Merasa tidak enak badan.
  • Malas berbicara.
  • Daya ingat berkurang, bingung, timbul halusinasi, dan ilusi penglihatan atau pendengaran.
  • Kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun.
3.  Masalah kebutuhan tidur
  • Insomnia
  • Hipersomnia
  • Parasomnia
  • Enuresa
  • Apnea tidur dan mendengkur
  • Narkolepsi
  • Mengigau 

Penatalaksanaan
Masa neonatus dan bayi
  1. Berikan cahaya yang lembut.
  2. Hindari pemberian bantal yang terlalu banyak.
  3. Berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi, misalnya membelai, meminang, bersenandung dan berikan lingkungan yang nyaman.
Masa Toddler ( balita )
  1. Berikan waktu tidur malam dan siang konsisten.
  2. Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
  3. Dukung aktivitas ”pereda ketegangan”, seperti bercerita dan memberikan mainan.
Masa Prasekolah
  1. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
  2. Dukung aktivitas ”pereda ketegangan”, seperti cerita sebelum tidur (dongeng) dan memberikan mainan.
  3. Minum susu sebelum tidur.

Masa Adolensia ( remaja )
  1. Usia ini sering memerlukan waktu sebelum tidur yang cukup lama untuk berdandan dan membersihkan diri.
  2. Makanan tinggi protein seperti susu dan keju dapat meningkatkan rasa ngatuk.
Masa Dewasa (muda, pertengahan dan tua)
  1. Bantu pasien dengan melepas ketegangan sebelum tidur.
  2. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman.

2 comments:

  1. Khasiat QnC Jelly Gamat

    Mengobati penyakit jantung, gagal jantung, dll
    Mengobati stroke
    Mengobati berbagai jenis kanker dan tumor
    Mengobati peradangan
    Alzheimer, Asam Urat, Asam Lambung
    Alergi, Angin Duduk
    Anoreksia Nervosa
    Asma, Anemia, Autis,
    Batuk Berdarah, Batuk Kering, Batuk Pada Bayi
    Biduran, Batu Ginjal, Batu Empedu
    Bronkitis, Bintitan, Bell’s Palsy
    Bopeng, Bulimia, Buta Warna
    Cacar Air, Cacar kering
    Campak, Cegukan, Chikungunya
    Demam, Disentri, Diabetes
    Epilepsi / Ayan, Filariasis
    Gonore, Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C
    Hidrosefalus, Haid Tidak Lancar / tidak teratur, Hipertensi
    Jerawat, Bopeng, Keloid, Luka Bekas Operasi, Luka Bakar
    Keputihan, Konstipasi atau Sembelit
    Maag baik Akut ataupun Kronis
    Nyeri Pinggang, Sinusitis
    Panu, Kadas, Kurap, Penyakit Jamuran, Penurun Kolesterol Tinggi
    Polip, Polio, Radang Sendi
    Reumatik, Mioma Uteri, dan masih banyak lainnya.

    ReplyDelete